Minggu, 27 September 2015

Asumsi Teori Sosial Albert Bandura



Asumsi dari Albert Bandura
Teori pembelajaran sosial adalah bagaimana orang belajar melalui pengamatan orang lain. Contoh teori belajar sosial akan menjadi siswa meniru guru. Self-efficacy adalah "kepercayaan dalam kemampuan seseorang untuk mengatur dan melaksanakan program tindakan yang diperlukan untuk mengelola calon situasi." Mengutip, self-efficiacy adalah percaya pada diri sendiri untuk mengambil tindakan. Bobo Doll Experiment adalah bagaimana Albert Bandura mempelajari agresi dan non-agresi pada anak-anak.[1]
Tahap awal penelitian Bandura menganalisis dasar-dasar belajar manusia dan kemauan anak-anak dan orang dewasa untuk meniru perilaku yang diamati pada orang lain, khususnya, agresi. Ia menemukan bahwa menurut teori Belajar Sosial, model merupakan sumber penting untuk belajar perilaku baru dan untuk mencapai perubahan perilaku.[2] Dalam sebuah bukunya (Bandura, 1977b, hlm.11), Bandura berkata:[3]
“Dalam pandangan faham belajar social, orang tidak didorong oleh tenaga dari dalam, demikian pun tidak digencet stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Alih-alih fungsional psikologi orang itu dijelaskan sebagai interaksi timbale balik yang terus-menerus yang terjadi antara factor-faktor penentu pribadi dan lingkungnnya”
            Teori belajar sosila Albert Bandura berusaha menjelaskan hal belajar dalam latar wajar. Tidak seperti halnya latar laboratorium, lingkungan sekitar memberikan kesempatan yang luas kepada individu untuk memperoleh keterampilan yang kompleks dan kemampuan melalui pengamatan terhadap tingkah-laku model dan konsekuensu-konsekuensinya.[4]
Asumsi Dasar
Asumsi yang menjadi dasar teori belajar sosila memberikan penjelasan tentang:
1.      Hakikat proses belajar dalam latar alami
2.      Hubungan antara orang yang belajar dengan lingkungannya
3.      Definisi dari apa yang dipelajari
Dapat dikatakan hakikat proses belajar dari Albert Bandura bermula dari kupasan atas belajar imitatif senagaimana yang telah ditunjukkan oleh teori-teori yang terdahulu, yaitu:
1.      Teori behavioristik yang dikembangkan dalam laboratorium, dan
2.      Teori-teori mengenai social anak
Menurut pandangan faham belajar social, tingkah-laku dan lingkungan itu dapat diubah, dan tak satupun merupakn penentu utama dari terjadinya perubahan tingka-laku.
“buku tidak akan mempengaruhi orang kecuali seorang menulisnya dan orang lain memilih serta membacanya. Ganjaran dan hukuman tetap tidak berpengaruh sampai dibangkitkan oleh performasi yang cocok”(Bandura, 1974, hlm.866)



            Akan tetapi, pemerolehan tingkah-laku komplek tidak dapat dimengerti dengan hubungan dua arah antara lingkungan dan individu. Bandura(1978) karena itu mengajukan hubungan segi tidga yang saling berkaitan anatara tingkah-laku (T), lingkungan (L), dan kejadian internal yang mempengaruhi persepsi dann tindakan (P). Misal sesorang yang baru melakukan suatu pelatihan asertif(pencegahan), tingkah-laku individu dapat mengaktifkan reaksi lingkungan yang baru. Pada gilirannya, reaksi ini menghasilkan rasa percaya diri pada lingkungannya yang kemudian menjadi perantara bagi timbulnya tingkah-laku di waktu yang akan datang.[5]




[1] http://www.wikipedia.com/albertbandura
[2] Henry P Sims Jr & Charles C Manz (1982): Teori Belajar Sosial, Jurnal Manajemen Perilaku Organisasi, 3: 4, 55-63.
[3] Margaret E. Bell Gredler, Ibekajar dan Membelajarkan Seri Pustaka Tekhnologi Pendidikan N0.11,(Jakarta:Rajagrafindo Persada,1994), hlm. 369.
[4] Ibid, hal. 370
[5] Ibid, hal. 376-78

Senin, 21 September 2015

Teori Belajar Behavior John B. Watson




Teori Belajar “Behavioristik”

Menurut Kerlinger dalam sugiyono dan Hariyanto (2011: 27), teori merupakan sebuah konsep atau definisi yang menggambarkan sekaligus menjelaskan sesuatu dari sudut pandang tertentu terhadap sebuah fenomena secara sistematis dengan cara menghubungkan berbagai variable yang ada di dalamnya.[1] Dari pengertian tersebut, pada dasarnya teori merupakan sebuah konsep dasar atas suatu kejadian, aktivitas, atau sebagainya yang sudah teruji dan dibuktikan secara empiris serta dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan, belajar menurut Skinner adalah suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat prodresif (tendensi kea rah yang baik).[2]
Dapat diambil garis besar jika teori belajar pada dasarnya menjelaskan tentang bagaimana proses belajar terjadi pada sorang individu. Yang berarti, teori belajar akan membantu dalm  membantu dan memahami bagaimana proses belajar terjadi pada seseorang. Pemahaman pada teori belajar akan membantu seorang guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan aktif, inovatif, kreatif, efisien, dan menyenangkan (PAIKEM).
Banyak teori-teori menyangkut dengan proses belajar, salah satunya adalah Teori Behavior. Teori ini di gagas oleh sorang psikolog John B. Watson pada tahun 1913 dalam karangannya “Psychology as the Behaviorist Views It”. Dalam karangan tersebut Watson menjelaskan soal tingkah-laku (Watson, 1913, hlm. 174).[3]
Belajar dalam pandangan behavioristik merupakan sebuah bentuk perubahan yang dialami siswa dalam bentuk perubahan kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons (Budiningsih, 2005:20). Dengan begitu, pokok perhatian teori behavioristik adalah belajar akan terjadi akibat adanya interaksi stimulus/input dan respons output yang dapat diamati dan diukur.[4]
Selain itu, menurut teori belajar behavioristik meskipun terjadi perubahan mental pada individu setelah belajar, factor-faktor tersebut tidak diperhatikan dan tidak dianggap sebagai hasil belajar karena dianggap tidak dapat diukur dan tidak dapat diamati. Oleh sebab itu, pengukuran merupakn hal yang sangat penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku. Penerapan teori behavvioristi dalam pendidikan lebih banyak menggunakan mekanisme penguatan (reinforcement). Diantara tokoh-tokoh teori ini adalah Edwin Guthrie, Clark Hull, Gagne, dan salah satu yang terkenal adalah Robert Bandura dengan teori belajar social atau social learning.
Demikianlah sekelumit tentang teori belajar behavior yang dicetuskan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang menekankan pada bentuk perubahan kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.


[1] Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran, (Yogyakarta :Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 145.
[2] Kuliah Psikologi Pendidikan disampaikan oleh Bapak Khamim Zarkasih Putro 7 September 2015
[3] Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan Seri Pustaka Tekhnologi Pendidikan No.11,(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1994), hal. 41.
[4] Ibid, hal. 148