Senin, 21 September 2015

Teori Belajar Behavior John B. Watson




Teori Belajar “Behavioristik”

Menurut Kerlinger dalam sugiyono dan Hariyanto (2011: 27), teori merupakan sebuah konsep atau definisi yang menggambarkan sekaligus menjelaskan sesuatu dari sudut pandang tertentu terhadap sebuah fenomena secara sistematis dengan cara menghubungkan berbagai variable yang ada di dalamnya.[1] Dari pengertian tersebut, pada dasarnya teori merupakan sebuah konsep dasar atas suatu kejadian, aktivitas, atau sebagainya yang sudah teruji dan dibuktikan secara empiris serta dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan, belajar menurut Skinner adalah suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat prodresif (tendensi kea rah yang baik).[2]
Dapat diambil garis besar jika teori belajar pada dasarnya menjelaskan tentang bagaimana proses belajar terjadi pada sorang individu. Yang berarti, teori belajar akan membantu dalm  membantu dan memahami bagaimana proses belajar terjadi pada seseorang. Pemahaman pada teori belajar akan membantu seorang guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan aktif, inovatif, kreatif, efisien, dan menyenangkan (PAIKEM).
Banyak teori-teori menyangkut dengan proses belajar, salah satunya adalah Teori Behavior. Teori ini di gagas oleh sorang psikolog John B. Watson pada tahun 1913 dalam karangannya “Psychology as the Behaviorist Views It”. Dalam karangan tersebut Watson menjelaskan soal tingkah-laku (Watson, 1913, hlm. 174).[3]
Belajar dalam pandangan behavioristik merupakan sebuah bentuk perubahan yang dialami siswa dalam bentuk perubahan kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons (Budiningsih, 2005:20). Dengan begitu, pokok perhatian teori behavioristik adalah belajar akan terjadi akibat adanya interaksi stimulus/input dan respons output yang dapat diamati dan diukur.[4]
Selain itu, menurut teori belajar behavioristik meskipun terjadi perubahan mental pada individu setelah belajar, factor-faktor tersebut tidak diperhatikan dan tidak dianggap sebagai hasil belajar karena dianggap tidak dapat diukur dan tidak dapat diamati. Oleh sebab itu, pengukuran merupakn hal yang sangat penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku. Penerapan teori behavvioristi dalam pendidikan lebih banyak menggunakan mekanisme penguatan (reinforcement). Diantara tokoh-tokoh teori ini adalah Edwin Guthrie, Clark Hull, Gagne, dan salah satu yang terkenal adalah Robert Bandura dengan teori belajar social atau social learning.
Demikianlah sekelumit tentang teori belajar behavior yang dicetuskan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang menekankan pada bentuk perubahan kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.


[1] Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran, (Yogyakarta :Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 145.
[2] Kuliah Psikologi Pendidikan disampaikan oleh Bapak Khamim Zarkasih Putro 7 September 2015
[3] Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan Seri Pustaka Tekhnologi Pendidikan No.11,(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1994), hal. 41.
[4] Ibid, hal. 148

Tidak ada komentar:

Posting Komentar