Teori
Belajar “Behavioristik”
Menurut Kerlinger dalam sugiyono dan
Hariyanto (2011: 27), teori merupakan sebuah konsep atau definisi yang
menggambarkan sekaligus menjelaskan sesuatu dari sudut pandang tertentu
terhadap sebuah fenomena secara sistematis dengan cara menghubungkan berbagai
variable yang ada di dalamnya.[1] Dari pengertian tersebut,
pada dasarnya teori merupakan sebuah konsep dasar atas suatu kejadian,
aktivitas, atau sebagainya yang sudah teruji dan dibuktikan secara empiris
serta dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan, belajar menurut Skinner adalah
suatu proses adaptasi perilaku yang bersifat prodresif (tendensi kea rah yang
baik).[2]
Dapat diambil garis besar jika teori
belajar pada dasarnya menjelaskan tentang bagaimana proses belajar terjadi pada
sorang individu. Yang berarti, teori belajar akan membantu dalm membantu dan memahami bagaimana proses
belajar terjadi pada seseorang. Pemahaman pada teori belajar akan membantu
seorang guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan aktif, inovatif,
kreatif, efisien, dan menyenangkan (PAIKEM).
Banyak teori-teori menyangkut dengan
proses belajar, salah satunya adalah Teori Behavior. Teori ini di gagas oleh
sorang psikolog John B. Watson pada tahun 1913 dalam karangannya “Psychology as
the Behaviorist Views It”. Dalam karangan tersebut Watson menjelaskan soal
tingkah-laku (Watson, 1913, hlm. 174).[3]
Belajar dalam pandangan behavioristik
merupakan sebuah bentuk perubahan yang dialami siswa dalam bentuk perubahan
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respons (Budiningsih, 2005:20). Dengan begitu,
pokok perhatian teori behavioristik adalah belajar akan terjadi akibat adanya
interaksi stimulus/input dan respons output yang dapat diamati dan diukur.[4]
Selain itu, menurut teori belajar
behavioristik meskipun terjadi perubahan mental pada individu setelah belajar,
factor-faktor tersebut tidak diperhatikan dan tidak dianggap sebagai hasil
belajar karena dianggap tidak dapat diukur dan tidak dapat diamati. Oleh sebab
itu, pengukuran merupakn hal yang sangat penting untuk melihat terjadi atau
tidaknya perubahan tingkah laku. Penerapan teori behavvioristi dalam pendidikan
lebih banyak menggunakan mekanisme penguatan (reinforcement). Diantara tokoh-tokoh teori ini adalah Edwin
Guthrie, Clark Hull, Gagne, dan salah satu yang terkenal adalah Robert Bandura
dengan teori belajar social atau social
learning.
Demikianlah sekelumit tentang teori
belajar behavior yang dicetuskan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang
menekankan pada bentuk perubahan kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara
yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.
[1] Muhammad Irham dan Novan Ardy
Wiyani, Psikologi Pendidikan Teori dan
Aplikasi dalam Proses Pembelajaran, (Yogyakarta :Ar-Ruzz Media, 2014), hal.
145.
[2] Kuliah Psikologi Pendidikan
disampaikan oleh Bapak Khamim Zarkasih Putro 7 September 2015
[3] Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan Seri Pustaka
Tekhnologi Pendidikan No.11,(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1994), hal. 41.
[4] Ibid, hal. 148
Tidak ada komentar:
Posting Komentar